Minggu, 26 Oktober 2008

Unforgettable Experience

Unforgettable Experience


Power Station dilanda banjir

Pada tanggal 27 Juni 1973, tiga hari sebelum PLTA Riam Kanan diresmikan, bangunan Pembangkit (Power Station) pernah mengalami banjir yang berasal dari air hujan yang mengalir dari area di sekitarnya yang lebih tinggi, sementara saluran airnya sedang disiapkan.

Air menggenangi Switchyard 70 kV setinggi 50 cm, sementara waktu itu mesin pembangkit sedang dalam keadaan bekerja (trial operation).

Waktu menunjukkan pukul 20.00 ketika operator dari Control Room menilpon dan memberitahukan bahwa air sudah menggenangi Swichyard. Seketika itu juga diperintahkan untuk mematikan Pembangkit Riam Kanan, dan menyalakan sentral pembangkit Diesel 2 x 600 kW.

Selanjutnya semua teknisi Fuji Denki dan Toyomenka termasuk petugas Riam Kanan datang ke Power Station untuk memeriksa bagian mana saja yang terkena dampak tergenangnya air di basement Gedung Pembangkit.


Basement yang terkena dampak banjir

Pada pagi harinya Bpk Direktur Pembangunan Ir Bagoes Moedijantoro didampingi Bpk Ir Sofyan Saibir datang untuk persiapan penyelenggaraan Peresmian PLTA Riam Kanan oleh Bpk Presiden Republik Indonesia.

Bapak Menteri PUTL Ir Soetami direncanakan akan datang keesokan harinya (28 Juni 1973).

Semua lumpur yang terbawa banjir dibersihkan dari peralatan bantu sepanjang malam, dan mulai pagi hari semua motor listrik untuk pompa hidrolis diperiksa dan dipanaskan.

Dari Lapangan Terbang Banjarmasin, Bpk Menteri langsung diajak Bpk Ir Soeminto untuk langsung meninjau Waduk dengan menggunakan Kapal kecil (motor boat) milik Proyek yang sudah disiapkan. Setelah meninjau waduk sampai ke daerah Tiwingan, barulah Bpk Menteri diantar ke Bangunan Pembangkit yang sedang dibersihkan akibat banjir di basement tadi malam.

Komentar Bpk Menteri sungguh melegakan! Bukannya marah besar karena kejadian tersebut terjadi menjelang peresmian Negara, tetapi beliau berkata: "Itulah dinamika pembangunan".

Pada sore harinya semua motor listrik dapat dioperasikan kembali, tanpa ada kerusakan. Selanjutnya mesin pembangkit dicoba, dan berhasil beroperasi....

Alhamdulillah, acara peresmian PLTA Riam Kanan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia berjalan sesuai dengan rencana pada 30 Juni 1973.


Seorang juru ukur Jepang Tewas terlindas Dozer-shovel

Kejadian ini terjadi pada tanggal 20 Oktober 1969. Pada saat mengadakan pengukuran dengan menggunakan theodolit di mulut Terowongan Tekan (Pressure Tunnel) yang sedang di kerjakan, seorang juru ukur Jepang bernama Mr Hikawa dari Kontraktor Hazama Gumi terlindas Dozer Shovel yang sedang berjalan mundur dari dalam Terowongan. Dozer shovel itu sedang mengangkut batu-batuan hasil peledakan dinamit di dalam Terowongan, untuk dicurahkan ke atas dump truck yang akan mengangkut dan mermbuang ditempat yang telah ditentukan. Dozer shovel dikendarai oleh operator Jepang juga dari Hazama Gumi.

Dozer-shovel seperti inilah yang melindas korban

Suara di sekitar mulut terowongan sangat bising karena adanya pekerjaan penggalian saluran dengan menggunakan jack hammer untuk memecah batu, dan juga suara compressor. Mungkin juru ukur yang sedang mengadakan pengukuran tidak mendengar datangnya dozer-shovel yang sedang berjalan mundur. Operator dozer mungkin pandangannya sejenak silau waktu berada di mulut terowongan, sementara dozer berjalan mundur dan langsung menggilas sang juru ukur yang malang.

Jenazahnya dikremasi di pinggiran sungai Riam Kanan di daerah Tambela (quarry site) paqda siang harinya, dan beberapa hari kemudian abunya dibawa ke keluarganya di Jepang.

Sebagai peringatan, di tempat kejadian dibuat monumen berupa batu dengan tulisan Nama, tanggal kejadian seperti foto di samping.


Tersesat di Riam Kanan


Dari kiri: Bpk Soeminto, Bpk Andoyo, Bpk Soekardi

Bendungan Riam Kanan mempunyai dua pelimpas air (spill way) yang akan bekerja yaitu mengalirkan air, apabila ketinggian air waduk telah mencapai ketinggian tertentu yang melebihi tinggi air normal. Level air tertinggi didesain pada elevasi +60 m (di atas permukaan laut).

Pelimpas pertama merupakan Service spillway dinamai ”Morning glory” atau Bunga kecubung, karena bentuknya seperti bunga kecubung, dan akan mengalirkan air apabila ketinggian air mencapai 57 m (elevasi +57 m dari muka laut).

Pelimpas kedua disebut Emergency spillway atau pelimpas dalam keadaan darurat, berupa ”natural open spill way”, karena akan mengalirkan air dalam kondisi banjir, yaitu bila elevasi waduk mencapai 63 m, (ketinggian puncak bendungan Riam Kanan pada elevasi 66 m). Spillway ini merupakan lahan terbuka di antara dua bukit di sisi kiri danau (bila menghadap ke hilir), dan pengerjaannya dilaksanakan pada tahun 1975, dengan meratakan daerah lembah yang dipilih urugan tanah tanpa dipadatkan sempurna, menjadi elevasi 63 m.

Pelimpas kedua ini akan mudah tergerus air dan terbuka apabila terjadi banjir dan air akan mengalir masuk ke sungai Aranio (anak sungai Riam Kanan) yang selanjutnya bermuara pada sungai Riam Kanan, jauh dihilir bendungan Riam Kanan.

Pelimpas ini dibuat agar bendungan Riam Kanan tidak jebol pada saat permukaan air melebihi ketinggian muka air banjir (elevasi 63 m) sehingga bencana di daerah hilir dapat dicegah.

Pada hari Sabtu pagi (diperkirakan pada akhir tahun 1969) pukul 10.00, bapak Andoyo, bapak Soeminto dan bapak Soekardi bermaksud untuk meninjau lokasi yang akan dijadikan Emergency spillway tersebut serta jalur aliran air limpasnya ke sungai Aranio, dengan menelusuri sungai Aranio dari bagian hilir. Diantar oleh pengemudi bpk Sabran sampai lokasi dekat pompa Ebara, yang dipasang di bagian hilir sungai Aranio dilokasi dekat jalan masuk ke daerah Proyek untuk supply air kebutuhan domestik. Ketiganya mulai berjalan memasuki hutan, menyusuri tepi sungai Aranio ke arah hulu sungai. Langit cerah dan dengan pakaian kerja drill abu-abu lengan pendek, sepatu lars dan topi kain, mereka menjelajahi padang alang-alang dengan ketinggian sampai 2 m. Yang ingin dituju adalah bukit dekat lokasi rencana open spillway dan diperkirakan dalam waktu satu jam akan tercapai, kemudian kembali kelokasi semula di dekat pompa Ebara, selanjutnya kembali ke kantor untuk makan siang.

Mereka berjalan sambil bercanda, karena kadang-kadang bapak Soeminto yang perawakannya lebih kecil tidak kelihatan karena tertutup alang-alang yang tinggi.

Setelah berjalan tiga jam dan belum menemukan bukit yang dituju, mereka mulai menyadari bahwa mereka telah tersesat. Namun mereka terus berjalan dengan harapan dapat menemukan bukit yang dimaksud dan mulai merasa kehausan.Di suatu tempat mereka menemukan mata air dan dengan sendok dari pisau lipat yang dibawa bapak Andoyo, mereka bertiga minum. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, ketika bapak Andoyo mencoba menaiki satu bukit untuk melihat kondisi sekeliling, dengan harapan akan melihat bukit lain atau tanda-tanda lokasi bendungan. Namun kedua hal tersebut tidak terlihat, dan mereka mulai panik.Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke aliran sungai Aranio yang semula ditelusuri, tetapi kenyataannya tanpa disadari arahnya telah menyimpang dan tiba di daerah yang tak dikenal.

Dengan logika bahwa aliran air sekecil apa pun tentu akan bemuara pada aliran air yag lebih besar, maka dengan badan yang telah sangat lelah perjalanan balik pun dilakukan. Akhirnya benar juga bahwa penelusuran tersebut sampai ke suatu dataran yang teduh karena banyak pepohonan hutan yang tinggi dan aliran air kecil yang diikuti tadi bertemu dengan aliran sungai kecil yang mereka pastikan adalah hulunya sungai Aranio. Mereka beristirahat sebentar dilokasi itu sambil tidur-tiduran dan melepas dahaga dengan meminum air sungai kecil yang tampak sangat jernih.

Salah satu hal yang mencemaskan adalah kemungkinan adanya beruang madu yang menurut cerita berada disekitar daerah hulu sungai Aranio. Dengan harapan seseorang akan mengenali tanda bahwa mereka pernah berada di sana, bapak Andoyo dengan sedikit rasa isengnya, memotong ranting kayu untuk dibuat tanda salib yang diikat dengan kaos kaki yang telah basah, kemudian ditancapkan di dataran pinggir sungai tersebut. Namun hal ini kemudian ternyata menimbulkan rasa kecemasan yang amat sangat bagi regu pencari yang menyusur dari lokasi ”emergency spill way” di waduk Riam Kanan ke arah hulu sungai Aranio yang kemudian menemukannya. Regu pencari ini mengira bapak Andoyo cs sudah masuk lebih dalam kehutan yang dihuni banyak beruang madu yang berbahaya dan apa jadinya jika demikian.

Setelah istirahat sejenak, mereka melanjutkan perjalanannya menyusuri tepi sungai Aranio tersebut yang penuh semak-semak ke arah hilir. Hari sudah mulai gelap, dan sebentar-sebentar terdengar suara gemerisik yang keras yang mereka duga suara rombongan keluarga babi hutan yang juga sedang menyusuri sungai Aranio atau menyebeanginya untuk mencari makan. Kebetulan bapak Soeminto takut sekali dengan babi hutan. Karena takut berpapasan dengan rombongan babi hutan tersebut mereka kemudian berjalan menelusuri alur aliran sungai Aranio. Rupanya dasar sungai itu makin lama makin dalam dan tidak rata, sehingga suatu waktu bapak Soeminto terperosok ke dalam air setinggi dada. Perjalanan kemudian diatur berurutan, bapak Andoyo yang postur badannya paling tinggi berada di paling depan, bapak Sukardi di belakangnya, dan bapak Soeminto yang paling pendek berada di paling belakang.

Hari sudah benar-benar menjadi malam dan sekali-kali bapak Andoyo berteriak sekeras kerasnya memanggil pak Marki, nama petugas penjaga pompa air Ebara, dengan harapan bisa didengar karena mereka mengira lokasinya sudah dekat. Walaupun berkali-kali diteriaki, tidak ada jawaban sama sekali dari siapa pun yang mungkln mendengarnya. Karena terasa sudah sangat lelah dan lokasinya sudah sangat gelap, mereka memutuskan untuk keluar dari alur sungai dan beristirahat di lereng bukit yang agak tinggi di sebelah kiri sungai dan tidur-tiduran di atas tanah bekas alang-alang yang habis dibakar untuk beristirahat saja dan menunggu sampai hari pagi tiba, bila memang tidak ada regu pencari yang menemukan. Sebenarnya bapak Andoyo malam Minggu itu sudah mempunyai karcis untuk menyaksikan penyanyi artis ibukota, Aida Mustafa yang akan manggung di Banjarmasin. Namun apa daya malam itu cukup menikmati bintang-bintang di langit saja.

Mereka bertiga sudah kehabisan tenaga, tanpa ada makanan dan hanya minum air sungai bila merasa haus. Arloji menunjukkan pukul 9 malam ketika mereka melihat cahaya lampu sorot di kejauhan di balik bukit di seberang sungai. Mereka berpikir bahwa bantuan akan datang, mereka berteriak memanggil-manggil lagi nama petugas pompa Ebara. ” Pak Marki, pak Marki”, demikian teriakan mereka berulang-ulang. Tetapi tidak terdengar jawaban, hanya gaung suara mereka saja yang terdengar memantul. Menyeberang sungai dan menaiki bukit rasanya tenaga sudah habis.

Tiba-tiba terlihat sinar lampu senter di atas bukit di seberang diarahkan ke kanan, ke kiri dan ke atas. Bapak-bapak itu sangat gembira karena harapan besar segera akan ada pertolongan. Pak Andoyo berteriak keras-keras ” Oooiii, kami di siniiii! Tetapi teriakan itu justru membuat sinar lampu senter itu menghilang. Belakangan diceritakan ternyata yang membawa senter itu hanya sendirian dan mengira teriakan pak Andoyo itu suara hantu dan ia kembali turun ke balik bukit.

Kemudian seseorang dari bukit di seberang memanggil-manggil dan meminta agar mereka menunjukkan lokasi dengan menyalakan api. ”Nyalakan api, nyalakan api!”. Kebetulan ketiganya tidak merokok, sehingga tidak punya korek api. Mereka menjawab: ”Tidak punya korek, tidak punya korek!”

Akhirnya regu pencari yang terdiri dari karyawan dan tenaga keamanan dapat menemukan mereka, dan mulai memapah mereka bertiga menyeberangi sungai Aranio dan menaiki bukit untuk menuju tempat mobil di balik bukit yang telah disiapkan.Bapak Andoyo berpikir: ”Andaikan ada tandu, wah lebih enak dari pada berjalan terseret-seret karena sudah kehabisan tenaga”.

Mereka dibawa ke kantor, dan sudah ditunggu oleh Komandan Batalyon Linud Mandiangin dan Komandan Batalyon Zipur Guntung Payung yang telah diberitahu bahwa pemimpin proyek hilang tersesat di hutan. Para komandan ini sangat khawatir karena esok paginya, hari Minggu pagi, Proyek Riam Kanan harus menerima kunjungan tamu, pejabat dari Tentara Diraja Malaysia. Sesudah mereka bertiga diperiksa kesehatannya oleh dokter Jepang dan dokter Linud, yang kebetulan juga menjadi dokter Proyek, mereka kembali ke Banjarbaru.

Pada hari Minggu esok paginya, pak Soeminto dan pak Andoyo sudah dapat mendampingi tamu, kunjungan Panglima Tentara Diraja Malaysia yang meninjau Proyek.Mungkin masih teringat bagaimana tadi malam masih tergolek di lereng bukit, menunggu regu penjemput yang datang menolong. Dan pagi itu baru terasa nyerinya kulit lengan yang tergores-gores oleh daun ilalang tadi malam dan baju dril yang kemarin dipakai sudah menjadi seperti kain wool.

2 komentar:

indra takashi mengatakan...

salam, saya turut berduka atas musibah tersebut, maaf perkenalkan nama saya indra takashi anak dari wakabayashi karyawan hazama gumi

indra takashi mengatakan...

salam, saya turut berduka atas musibah tersebut, maaf perkenalkan nama saya indra takashi anak dari wakabayashi karyawan hazama gumi, saya dilahirkan dari ibu masnur djuin di banjarmasin tgl 07 mei 1970